Serat Kelabu

Mengurai Kisah Merinci Jengah


Tinggalkan komentar

Arbanat (Part 1)

“Senyummu serupa gula-gula kapas. Manis dan membuatku ketagihan. Kata bunda, gula-gula kapas itu punya nama, Arbanat. Dan sejak senyum pertama yang kusaksikan dahulu, kamu adalah Arbanat bagiku”-Anita Rakasiwi.

Probolinggo, Agustus 2014

Angkot yang ditumpangi Anita menyalip beberapa kendaraan di depannya tanpa menurunkan kecepatan. Kang sopir bermanuver dengan salip kanan lalu kiri lalu kanan lagi, ditambah dengan klakson yang meraung-raung. Sudah semacam fast and furious saja, minus drift-nya. Tanpa perlu dikomando, seluruh penumpang kompak mengeratkan pegangan pada ring besi pelindung kaca, dengan tangan lainnya memeluk barang bawaan masing-masing.

“Hati-hati pak, jangan ngebut. Saya gak mau benjut,” protes ibu-ibu yang barang bawaannya paling banyak.

“Ya pak, lagian ngapain pakai ngebut segala, penumpang sudah penuh begini,”

“Betul itu…,” seketika penumpang sahut-menyahut melayangkan protes pada sopir.

Anita diam saja. Dia sudah terlalu sibuk menahan muntah. Angkot semacam ini sebenarnya pilihan terakhirnya jika ingin bepergian agak jauh. Bukan karena sok mewah, dia gampang sekali mabuk darat. Bau mesin dicampur dengan aroma kampas rem serta asap yang berasal dari bensin, membuatnya pusing dan lemas. Dia lebih suka jalan kaki atau naik sepeda daripada menyiksa diri di dalam angkot. Tapi hari ini Anita tak punya pilihan. Kakinya terluka dan terlalu sakit untuk dibuat berjalan sepanjang tiga kilometer. Sepeda motor kesayangnya sedang masuk bengkel.

“Mohon maap ibu-ibu saya kebelet,” sahut sopir yang mendadak membelokkan angkotnya ke SPBU terdekat. Lalu terbirit-birit menuju toilet.

“Huuuuuuuu, dasar sopir edan,” saut salah satu penumpang.

Anita turun lalu memaksa kakinya berlari menuju arah yang sama dengan sopir. Toilet. Dia sudah tidak tahan Baca lebih lanjut

Iklan


Tinggalkan komentar

Fathonah Binti Ihsan

Fath, begitulah perempuan itu biasa dipanggil. Kebanyakan yang memanggil mendadak jadi cedal dan gak bisa mengucapkan F dengan baik dan benar. Sehingga nama indahnya berubah menjadi Pat. Apalagi kalau ditambah dengan sebutan Mak yang seolah menjadi gelar resminya. Jadilah nama Mak Pat itu kondang ke seantero desa, bahkan kecamatan.

Kok bisa?

Lha bisa banget, karena sejak muda Fath gandrung sekali mengikuti organisasi. Dari sekian banyak organisasi resmi dan gak resmi yang dia ikuti, Muslimat NU menjadi satu yang ia berikan kesetiaan dari dulu hingga kini. Selain muslimat, dia masih seneng kumpul dengan anggota Fatayat, organisasi NU juga tapi biasanya diisi mahmud alias mamah muda. Kalau Muslimat kebanyakan anggotanya sudah mahman alias mamah berpengalaman (menghindari kata tuwir wkwk). Nah selain muslimat, fatayat, dia juga sibuk memimpin pengajian ibu-ibu kampung, tiap sabtu, selasa dan belum lagi kalau ada undangan mendadak dari perkumpulan haji atau thoriqoh. Semua dia ikuti dengan sepenuh hati. Sibuk banget deh.

Karena itu di kecamatan tempat dia tinggal, namanya cukup dikenal dengan “Mak Pat”.

Di tengah kesibukan itu, Fath tetap menjadi ibu rumah tangga yang bertanggung jawab atas 4 anaknya. Si sulung yang laki laki dan 3 adiknya yang kesemuanya perempuan membutuhkan perhatiannya. Apalagi kalau sudah musim sekolah datang, dia harus memastikan si Sulung berangkat dengan perut kenyang, peralatan lengkap (meski apa adanya) dan memastikan dapat tumpangan. Sebab sekolah si sulung ini jauh, di luar desa meski masih satu kecamatan.

Tiap mengantar si sulung pergi ke tepi jalan, dia juga tak lupa merapal doa agar tak ada masalah di sekolah. Maklumlah, si sulungnya cenderung usil, punya rasa ingin tahu yang tinggi dan agak nekat. Sifat yang ia tahu betul, menurun darinya. Si Fath muda dulu nekat jadi mayoret grup drumband ketika tak ada yg sanggup. Padahal tahu ilmunya saja tidak. Jadilah dia nekat memimpin dan tampil dengan latihan singkat. Untung saja kecerdasannya membantunya cepat memahami tugas mayoret dengan baik. Dan kecerdasan itu pula yang ia turunkan ke anak sulungnya, hingga setiap hari ada saja pertanyaan dari si sulung yang harus ia jawab dengan susah payah.

Suami Fath adalah anak seorang kiyai kampung yang sehari hari mengurus ladang dan sawah. Ia dan suaminya sejatinya masih tinggal di kompleks pesantren milik orang tua sang suami. Tapi kepengurusan pesantren bukan menjadi hak suaminya, adik iparnya yang lebih paham diminta untuk mengurus itu semua. Sedang Fath dan suaminya, mengurus ladang dan sawah yang sebagian hasilnya juga digunakan untuk operasional pesantren.

Ayah kandung Fath sendiri hanyalah guru ngaji biasa di salah satu mushollah kampung. Bukan dari kalangan pesantren. Karena itu dulunya ia sempat menolak ketika suaminya hendak meminang. Merasa tak sepadan. Apalagi jarak usia mereka membentang 15 tahun lamanya. Ia merasa menikahi aki-aki, bukan laki-laki. Namun, kesungguhan sang calon suami ketika itu, membuat ayahnya luluh dan merestui Fath diboyong ke pesantren. Fath yang merasa harus patuh pun tak bisa menolak. Maka ia pun berontak dengan caranya sendiri. Tidak mau tidur satu kamar dengan suaminya dan protes itu ia lakukan selama hampir dua tahun. Tapi saat kutanya apa yang membuatnya akhirnya luluh, dengan malu-malu dia mengatakan, jatuh cinta mungkin? Hahaha dia mengaku sebagai korban peribahasa witing tresno jalaran soko kulino. Lalu setelah itu lahirnlah si sulung, nomor dua, tiga dan empat.

Sebagai ibu rumah tangga yang hidup di lingkungan pesantren tradisional, banyak sekali aturan yang harus ia penuhi. Pun peran yang ia jalani. Tapi Fath tak pernah mengeluh, ia jalani saja semua dengan senang hati.

“Memang suka kumpul dengan masyarakat, jadi meski sibuk tapi tetap dilakoni,” katanya kepadaku dalam satu kesempatan.

Setiap melakoni kesibukan di luar, ia sebisa mungkin membawa anak-anaknya. Ribet sih, tapi ia merasa lega jika tahu anaknya sedang melakukan apa, bermain bersama siapa dan saat si anak butuh, Fath bisa hadir kapan saja. “Diajak sampai mereka gak mau diajak lagi. Kalau sudah masanya kepingin main sama teman, anak pasti susah lagi untuk diajak. Jadi selama masih mau diajak pergi, kita ke mana-mana selalu datang berombongan,” kenangnya.

Kini anak-anak Fath sudah dewasa. Masing-masing sudah memberikan cucu. Si sulung, nomor tiga dan si bungsu tinggal di luar kota. Anak nomor dua yang menemaninya di rumah besar itu. Kalau Fath kangen cucu-cucunya, dia mbelani libur sebentar dari segala kegiatan dan organisasi lalu pergi menengok cucu. Katanya, sekalian rekreasi. “Kalau sudah tua yang diingat mesthi cucunya. Anak jadi nomor dua dan suami nomor tiga,” kelakarnya kepadaku.

Kata Fath, saat berbincang dengan cucu terutama yang sudah besar, dia mencoba menjembatani apa keinginan si cucu dengan keinginan anaknya yang notabene orang tua si cucu tersebut. Sambil sesekali memberi nasihat ringan ala dirinya. “Sebenarnya pesan saya itu sederhana dan gampang dimengerti. Karena saya juga ndak ngerti bahasa anak jaman sekarang. Ngertinya ya bahasa orang kuno. Ndak usah ndakik-ndakik (ngomong tinggi) dan panjang lebar kalau menasihati cucu. Ambil yang penting saja, singkat dan dengarkan dia bercerita dulu sampai tuntas,” katanya saat menjelaskan gaya asuh untuk cucunya.

Kata-kata Fath ini jadi bukti bahwa pengalaman memang tak bisa dibeli. Saat kutanya, nasihat apa sih yg dia berikan? Dia menjawab yang pertama jelas agar patuhi Al quran, lalu manut orang tua dan tahu diri. Sudah itu saja. Tahu diri ini, menurut Fath, ya harus menyesuaikan apa posisi dia saat ini. “Kalau cucu saya mengeluhkan temannya, gurunya atau pekerjaannya, saya itu cuma menyarankan untuk sabar, ingat posisi, tahan diri. Yang namanya orang sabar itu tidak bisa kalah. Minimal kan menang dari diri sendiri. Ya tho?” tanyanya minta persetujuan.

Tapi bukan berarti nasihatnya selalu singkat. Ia pernah menasihatiku panjang lebar saat aku mengunjunginya dan mengatakan, mungkin aku sudah ketemu jodohku setelah sekian lama gagal melulu hahaha. Nasihat dia yang panjang lebar itu, anehnya masih teringat dalam memoriku yang terkadang mendadak soak. Bahkan sampai detail cuaca dan baju yang ia pakai kala menasihatiku tentang hidup. Katanya, “Wong wedok dalam sebuah rumah tangga itu ibaratnya seperti cagak rumah. Berdiri di tengah dan menopang semua hal di dalam rumah itu bisa berdiri. Tanpa cagak, rumah akan ambruk. Sedangkan lelaki seperti atap dan temboknya. Tanpa lelaki mungkin rumah masih berdiri tapi tidak terlindungi. Sehingga barang-barang di dalam rumah rapuh dan cepat rusak. Karena itu lelaki dan perempuan yang jadi pasutri itu harus bekerjasama. Saling bahu membahu membuat rumah tangga tegak berdiri. Untuk apa? Agar barang-barang berharga di dalam rumah (anak, harta benda, ilmu, kasih sayang dll) bisa mencapai manfaat yang maksimal. Artinya bermanfaat untuk rumah tangga itu sekaligus lingkungannya. Karena itu kenapa dalam Islam suami-istri harus saling menutupi aib. Biar rumah tangganya tetap utuh, terjaga dan bisa melindungi “isi” rumah. Sampai tiba saatnya isi rumah itu keluar untuk membuat rumah baru,”

What a great words

Untuk ukuran seorang nenek dengan belasan cucu, kata-kata Fath ini membuatku tenang dan membuatku mengatakan dalam hati “bener juga ya”

Dan sampai hari ini Fath masih sibuk berorganisasi sambil sesekali rekreasi menengok cucu, aku salah satunya.

Kesempatan untuk bertemu dengan nenekku ini memang tak sesering dulu. Apalagi sekarang, setelah aku melahirkan cicitnya. Tapi Alhamdulillah kesehatannya baik, ia masih sibuk memimpin mamak mamak mengaji dan baru beberapa hari lalu rekreasi ke Tuban. Menengok cucu dan anak bungsunya.

Sehat terus nggih Mak Pat, mbah putriku.


Tinggalkan komentar

Sandal dan Ayam

Hari hari ini mbak bayik, Kraznaya Aisha Haniyya sudah mulai paham dan tahu bedanya apa itu marah, jengkel, kecewa dan gemes. Hanya saja, karena memang belum banyak kosakatanya, dia kesulitan mengekspresikan diri. Biasanya kalau sudah mulai keluar tanda-tanda jengkel atau marah, ibuk mendekati dia dan melakukan wawancara. Nanya-nanya maksudnya, bukan wawancara macam wawancara kerja wkwk

Ibuk: lah nopo? Aisha pengen nopo? Nesu? (ngapain? Aisha mau apa? Ngambek?)

Aisha: Aisha halan halan

Berarti dia minta jalan jalan, atau minta main, atau minta es krim atau minta nyusu….

Baru deh ibuk jelaskan pelan-pelan kalau minta-minta itu ndak perlu pakai nangis.

Nah tapi ya.. Kayaknya niru adegan di tv atau lihat siapa, sekarang klo lagi jengkel dia lempar barang. Mainan dibanting, sandal dibanting. Lhah wis ibuk kudu emosi ae…. Me-nyabar2kan diri thok sambil istighfar. Kayak tadi pagi, tiba-tiba jengkel entah karena apa dia banting sandalnya. Ditanya minta apa? Mau apa? Malah banting sandal. Alhasil ibuk males dan bilang

“Mantun niki nek sandale dibanting maleh, sandale diparingni Pitik,” (Habis ini klo sendal dibanting lagi, sendalnya dikasih ke ayam)

Eh dibanting dong sama mbak bayi ini… Ya sudah sendalnya tak bawa ke belakang rumah. Begitu buka pintu, ayam tetangga datang ngrubung. Efek kebiasaan ngasih makan ayam tetangga pakai nasi bekas hahaha. Dikerasin deh ngomong, “Lek Pitik, titip nggih sandal e Aisha. Larene pun mboten remen. Sandale dibanting banting,” (Om Ayam, nitip ya sandalnta Aisha. Anaknya udah gak suka. Sendalnya dibanting banting).

Dari dalam kamar dia lari dong sekencengnya sambil tereak,

“Sandal Aisha.. Sandal Aisha.. Sandal Aisha.”

Sandal disembunyikan sama ibuk.

Sambil menahan ngakak, dan pasang wajah flat, memandang si mbak bayi tanpa kata.

“ibuuuuk.. Sandal Aisha..”

“Pun dititipne pitik. Aisha mboten remen sandal e.. Nggih diparingni pitik,” ibuk njawab. (udah dititipin om Ayam. Aisha gak suka sandalnya ya dikasihkan deh ke ayam)

“Sandal Aisha,” nangis sambil nunjuk nunjuk ke arah luar.

Akhirnya ibuk negosiasi. Dia ditawari mencari lagi sandalnya yang dititipkan ke Ayam. Kalau ketemu nggak boleh dibanting, harus disayang. Diletakkan di tempatnya.

Entah paham entah enggak pokoknya dia bilang,

“inggih buuuk inggiih.. ”

Fine. Ibuk buka pintu belakang. Ayam datang, dan dia mulai jalan pelan pelan nyari sandal. Sementara dia nengok kanan kiri, ibuk diem-diem naruh sendal di dekat pintu. Agak lama nyari sambil mbrebes mili dan menggumam sandal Aisha.. Akhirnya ibuk manggil.

“Nduk mriki, niki lo sandale pun dibakekne kalian Lek Pitik, ” (nak sini, ini lo sendalnya udah dibalikin sama om ayam)

“pundi? ” (mana)

“Niki.. ” (ini)

“lhaaa ini,” kata mbak bayi sambil senyum.

Hahaha dan dia berlari kecil ke arah sandalnya.

Setelah sandal didapat, tak lupa ibuk menagih janji. Kepastian dia ndak banting-banting lagi sandalnya dan diletakkan kembali sandal ke tempatnya. Eh mbak bayi nyelonong dong ke tempat sendal. Sendalnya ditaruh di sana, meski dengan posisi terbalik. Not bad lah untuk bayik 22 bulan wkwkwk

Ada yg punya pengalaman serupa?


2 Komentar

Arbanat (Prolog)

Oleh: Rifqi Amalia

“Aku pergi diam diam. Meninggalkanmu dan semua kenangan. Berharap kelak kembali ketika nostalgia terasa seperti gula gula,” – Anita Rakasiwi

Probolinggo, Juni 2015

Anita merapikan kerudungnya kembali, hanya sekedar melepas kegugupan. Keretanya sebentar lagi datang, dan itu berarti untuk pertama kalinya ia akan pergi meninggalkan kota ini. Kota di mana dia tumbuh, hidup, belajar dan kehilangan. Ia mencintai kota ini, namun kehilangannya yang terakhir tak lagi mampu membuatnya bertahan lebih lama. Setiap jalan di kota ini mengingatkannya pada segala kenangan yang pada akhirnya bermuara pada tangisan. Mungkin memang harus begini jalannya dan Anita memilih pergi.

“drrt… drrrt…. drrt… ”

Ponselnya bergetar. Ragu, perempuan itu melihat sekilas ke layar. Ada nama seorang yang sangat dihormatinya di sana. Serta merta ia mengangkat panggilan pada dering ke tiga.

“Assalamualaikum, di mana nak? ”

Suara di seberang kentara betul menunjukkan kekhawatiran.

“Di ruang tunggu stasiun Umi, ”

“Tekadmu sudah bulat ternyata. Umi hanya bisa mendoakan. Semoga yang kamu usahakan tercapai. Jalan menuju ilmu yang bermanfaat akan berliku nduk. Banyak-banyak sabar. Jangan tinggalkan sholat dan baca Al-Quran ya. Sesampainya di Jogja, tolong kabari lagi Umi,”

Hening, Anita berusaha menahan isak tangis. Ia tak ingin perempuan mulia ini mendengarnya.

“Nduk… ”

“Iya umi, pasti. Begitu sampai asrama nanti Anita kabari,” kepalanya mengangguk takzim, seolah Umi Min melihatnya.

“Ya sudah. Hati-hati di jalan. Jangan lupa berdoa sebelum perjalananmu dimulai. Niatkan, ikhlaskan untuk mencari ilmu manfaat. Semoga Allah memudahkan,”

“Ya Umi. Insya Allah Nita akan melaksanakan semua pesan Umi. Salam untuk Abah,”

“Assalamualaikum, ”

“ya Umi. Waalaikumsalam warahmatullah, ”

Anita meletakkan kembali smartphone berwarna hitam itu ke tas kecilnya. Sepuluh menit lagi kereta datang, ia mengecek tiket, memastikan ulang tempat duduknya. Gerbong 3 nomor 14 E.

Untuk orang pindah tempat tinggal, bawaannya tak banyak. Hanya satu tas carrier ukuran 50 liter dan satu tas kecil untuk menampung dompet, ponsel dan tiket. Di dalam tas carrier milik mendiang kakaknya itu, ia menjejalkan 5 potong gamis, beberapa kerudung, 3 setel baju rumahan, beberapa kaus kaki dan pakaian dalam. Ada juga dokumen kependudukan, ijazah dan satu album foto yang berisi kenangannya bersama keluarga. Barang-barangnya yang lain sudah ia sumbangkan ke teman-teman dekatnya. Termasuk hadiah-hadiah pernikahan yang ia terima tiga tahun lalu. Seperti panci, wajan anti lengket, seperangkat cangkir dan jug dan perintilan dapur lainnya. Seprei, kelambu dan pajangan rumah yang masih bagus ia serahkan ke Umi Min. Terserah mau diapakan. Yang jelek dan kusam, sudah ia setorkan ke pengepul barang bekas bersama kertas sisa ujian, fotokopian dan barang gak penting lainnya. Satu yang ia bawa hanya jam dinding gantung dua sisi bergaya vintage yang ia dapat sebagai hadiah kelulusan SMP dari mendiang kakaknya. Ada foto mereka berdua di sana. Foto terakhir sebelum Andika meninggal dunia.

“Ding ding.. ”

“Mohon perhatian, kepada penumpang kereta api Logawa jurusan Jember-Purwokerto diharap mempersiapkan diri. Periksa kembali barang bawaan Anda, jangan sampai tertinggal di stasiun. Kereta Logawa terdiri dari 6 rangkaian kereta, ekonomi 1, ekonomi 2…..”

Pengumuman dari petugas stasiun membuat Anita siaga. Suara merdu dengan intonasi tertata itu menjadi tanda kereta semakin dekat. Anita menuju peron dua bersama dengan penumpang lainnya.

Begitu kereta datang dan berhenti, ia bergegas menuju pintu masuk gerbong 3. Sambil menunggu penumpang turun, ia mengantre di belakang ibu muda yang menggendong anaknya. Menaiki tangga, melewati bordes dan mulai mencari tempat duduknya. 14 E berada di deretan kursi sebelah kanan, dan nomor miliknya terletak di tepi jendela, menghadap lokomotif. Ia sengaja memilih kursi yang tidak membuatnya pusing. Perjalanan yang ditempuhnya kali ini bukan satu atau dua jam, tapi delapan jam. Ia tak ingin mendadak tak enak badan jika terlalu lama duduk menghadap arah berlawanan dengan arah laju kereta. Setelah meletakkan tas carrier di rak, besi tepat di atas bangku, Anita duduk. Tak ada siapa-siapa di bangku depan atau samping. Tampaknya untuk sementara waktu ia bisa bebas selonjoran. Ia pun mengeluarkan buku dan bersiap menyelonjorkan kaki di kursi depannya. Namun gerakan itu urung ia lakukan begitu melihat sosok yang dihindarinya selama dua bulan ini menuju ke arahnya.

Tatapan mereka bertemu. Laki-laki setinggi 180 cm itu menawan Anita dengan tatapannya.

Ngapain kak Rama ke sini? Bukankah seharusnya dia liputan di Surabaya?” batin Anita bertanya.

Tanpa berbicara, lelaki yang memenuhi doanya tiap subuh dan petang ini duduk dengan percaya diri di samping Anita yang mendadak kaku.

Rencana Anita untuk pergi diam-diam gagal. Lelaki ini tetap tahu, entah dengan cara apa, bahwa Anita pergi hari ini. Meninggalkan dia dan kenangan tentang mereka di kota ini.

“ehm… ”

Lidah Anita kelu, kata-katanya tercekat. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Orang yang susah payah dihindarinya, kini malah berdiri di depannya dan dengan santainya meletakkan tas ransel miliknya disamping tas carrier Anita. Lalu duduk di bangku 14D dengan percaya diri.

“Harusnya kamu tidak perlu sembunyi-sembunyi jika ingin pergi. Toh saya tidak lagi memiliki hak untuk melarang kamu. Tapi setidaknya kita bisa berpamitan dengan layak,”

Anita tak membalas. Mulutnya seperti dilem. Hanya gumamam tak jelas yang lolos dari bibirnya tipisnya.

“Saya sudah menduga sebenarnya, kamu akan menerima beasiswa itu dan pergi dari sini. Dan saya juga sudah mengira, kamu merasa tidak perlu berpamitan dengan saya. Karena itu saya menelepon teman saya di stasiun, untuk segera menghubungi jika ada sesorang yang bernama Anita Rakasiwi memesan tiket ke Lempuyangan,” lelaki itu menoleh, melihat Anita yang masih terkejut.

“Tapi itu gak jadi masalah sekarang.”

Penjelasan lelaki itu berhenti. Terpotong ritual pengumuman yang disampaikan customer service kereta. Jeda itu rupanya cukup bagi Anita untuk mengumpulkan keberanian dan berbicara.

“Kakak nggak turun?”

“Tidak. Untuk apa?”

“Memangnya kakak mau ke mana?”

“Ke kota yang sama dengan tujuanmu”

“Jogja? Untuk apa? Mengantar Anita? Rasanya gak perlu sampe segitunya deh kak! Anita sudah memutuskan, dan sudah berpamitan pada Umi Min. Jadi kakak gak perlu mengantar Anita sampai ke Jogja. Dan lagi, saat ini Anita bukan lagi tanggung-jawab kakak…..”

Ucapnya getir.

“Kakak ke Jogja tidak untuk mengantarmu. Ada urusan sedikit. Tapi memang sengaja menyamakan hari dengan keberangkatanmu. Kalau kamu tidak mau berpamitan, kakak yang akan melakukannya. Pamit itu penting,”

Anita tak membalas. Kereta yang mereka tumpangi bergerak.

Tampaknya perjalanan kali ini tidak akan menjadi perjalanan yang tenang bagi Anita. Ia melirik lelaki di sampingnya yang kini mengeluarkan buku TTS bergambar wanita berdandan menor.

Allahu rabbi. Beri hamba kekuatan menghadapi pak mantan suami. Its gonna be a long trip,”

To be continued

——–

Hai hai…

Akhirnya saya memberanikan diri menulis cerbung. Rencananya sih cerbung ini gak berplot rumit dan bergenre romance. Cerita ringan tentang dua orang yang jatuh cinta dan belajar menerima kekurangan masing-masing. Klise ya.. Hehe alasannya sih karena ini cerita panjang pertama yg saya tulis jadi saya ingin membuatnya ringan dan sederhana tapi tetap manis seperti gula gula kapas.

Konflik tetap ada. Doakan ya semoga bisa membangun konflik dengan baik dan menyampaikan pesan yang berguna. Rencananya sih akan terdiri dari 20-25 part yang akan saya update seminggu sekali. Alurnya mundur lalu maju. Biar gak bingung ada keterangan waktu di awal bagian. Dan cerita ini ditulis dari point of view tokoh utama perempuan. Semoga suka dan mohon kritik dan sarannya ya..


Tinggalkan komentar

Aktif Kembali

Yang pergi akhirnya kembali.

Blog mati kini hidup lagi.

Hahaha 😂😂

Lama banget gak update blog. Ibarat rumah, kalau gak ditinggali dalam waktu yang lama, biasamya sudah keropos sana-sini. Perlu renovasi biar bau kehidupan kembali menguar.

Kikikik 😬😬

Kesambit apa ya, kok saya ngidupin blog lagi? Kesambit tugas menulis.

Postingan terakhir blog ini ditulis sebelum saya menikah. Dan sekarang saya sudah punya anak 1. Time flies so fast….. Tau tau udah tua aja… 😝

Jani nih ya, setelah beribu kisah haru dan lucu saya insyaf deh dan mengakui bahwa menulis adalah ranah produktif yang harusnya saya seriusi sejak dulu.

Semoga ke-insyaf-an saya ini awet lah ya. Jadi blog ini bisa idup terus. Saya gak berencana nulis banyak hal. Saat ini sedang fokus menantang diri sendiri untuk menulis cerbung.

Kenapa kok tiba-tiba cerbung?

Dari dulu saya hobi banget bikin story line. Klo baca cerita gak enak dibaca, alur berantakan dan diksi aneh, saya suka greget sendiri. Mesthi mbathin “eman e.. Padahal idenya bagus, kok gak ditulis dengan bagus sih…” bathinan macam itu berujung pada corat coret bakal novel. Tersimpan rapi dalam folder laptop yang akhirnya gak berkembang jadi novel beneran wkwk.

Ampun deh.

Karena itulah saya ingin menantang diri sendiri untuk menulis cerita dengan baik dan benar. Pengennya sih cerbung itu bisa terupdate satu tulisan satu minggunya. Semoga goals ya..

Dan insya Allah akan saya jadikan tugas mingguan dan setoran ke rumbel menulis IIP Malang Raya yang saat ini saya menjadi salah satu membernya. Bismillah, semoga lancar dan gak mengkhianati diri sendiri lagi…

Rifqi Amalia


Tinggalkan komentar

Itu Cinta

Jika ada satu kata yag memiliki dua makna bertentangan itu adalah cinta
Jika ada satu kata yang memiliki hentakan samak kuatnya itu adalah cinta
Jika ada kata yang wujudnya bertolakbelakang itu adalah cinta
Cinta
Membuatku begitu menyukaimu sekaligus merana karena tak bisa bertemu
Cinta
Membuatku ingin mengubah dunia hanya agar kau hidup lebih bahagia sekaligus memberiku luka ketika tak mencapai maksudnya
Cinta
Adalah pelajaran paling nyata yang bisa kutera kan setiap pagi sekaligus yang paling sulit kuberi definisi
Cinta
Adalah kamu dan aku bersama sama selamanya 🙂